Motivasi dan Reza
Malam itu sangat tenang, aku duduk di sebuah meja di kafe yang sangat indah sambil menunggu temanku datang. Aku sangat menyukai tempat ini. Kita bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa indahnya, belum lagi suara air yang mengalir, rasanya penat dan stres ku hilang terbawa bersama aliran air itu. Aku larut dalam suasana di kafe itu. Aku mulai memejamkan mata untuk merasakan sejuknya udara, suara orang-orang yang bercengkerama, dan wangi tanah yang terguyur hujan. Ketika sedang memejamkan mata, tiba-tiba seseorang mengagetkan ku dengan suaranya. Buru-buru ku buka mataku. Orang itu terlihat merasa bersalah ketika melihat ku terkejut. “Ah,, maaf. Kamu Jihan kan?”. Aku semakin terkejut mendengar perkataannya. Siapa dia? Kenapa dia tau namaku? Stalker? Tidak mungkin aku punya stalker sih. Lalu siapa? Pikiran-pikiran negatif bermunculan di kepalaku. Dia terkekeh melihat wajahku seraya berkata “maaf membuatmu takut. Aku Reza temannya intan”. Oh rupanya dia teman intan. Aku memang di sini menunggu intan dan temannya yang akan dia kenalkan padaku tapi kenapa dia datang sendirian?. “oh gitu, intannya ke mana?” tanyaku padanya. “dia ada urusan jadi aku datang sendiri”. Dia kemudian duduk di depanku. Hening. Tidak ada pembicaraan. Aku sangat canggung karena ini pertama kalinya aku bicara dengan orang yang enggak ku kenal tanpa intan. 20 menit berlalu, kami saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan. “Tidak boleh begini! Harus ada yang memulai pembicaraan. Tapi apa yang harus ku katakan? Apa ku tanya pekerjaannya? Ah aku harus mengatakan sesuatu! Tapi apa? Ah terserahlah” batin ku dalam hati. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya lebih dulu. Dengan canggung aku bertanya ”anu– itu... Tadi siapa nama kakak?”. Dengan cepat dia menjawab “Reza. Namaku Reza. Panggil reza aja”. Lalu reza tersenyum, dia terlihat ramah sekali. Dia seumuran dengan intan. Intan memang lebih tua dariku tapi aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak karena aku sudah terbiasa memanggilnya Intan dari kecil dan dia juga melarangku memanggilnya dengan sebutan kakak. Aneh, katanya. Setelah itu dia mulai bertanya banyak hal yang ku jawab lagi dengan pertanyaan. Dari pembicaraan ini aku mengetahui bahwa reza adalah mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang mempelajari ilmu psikologis. Akhirnya kami berbicara panjang lebar, tak disangka dia juga orang yang humoris, aku banyak tertawa saat bicara dengannya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku terperanjat melihat jam di hpku, belum lagi notifikasi yang menunjukkan ada 15 panggilan tak terjawab dari ibuku dan pesan singkat yang tidak sempat ku buka. Aku segera membalas pesan dari ibuku bahwa aku akan segera pulang. Aku pun buru-buru pamit pada reza lalu dia mengantarku pulang ke rumah. Dia bilang ini terlalu malam untuk pulang sendiri.
Keesokan harinya dia menghubungiku, sekedar menyapa dan bertanya keadaanku. Anehnya aku merasa sangat senang mendapat pesan darinya. Dia orang yang sangat menyenangkan. Dia juga banyak mengajariku tentang membaca ekspresi wajah seseorang. Itu sangat berguna bagiku karena aku sering merasa cemas saat bicara dengan seseorang karena tidak tau apa yang mereka pikirkan. Aku jadi semakin tertarik pada reza dan ilmu psikologis. Hari demi hari, kami semakin dekat. Baik aku dan dia mulai nyaman untuk berbagi cerita baik masa lalu maupun masa depan. Dia orang yang sangat baik, selalu mendengarkan keluh kesahku dan memberi solusi agar aku tidak tertekan. Berteman dengan reza rasanya seperti memiliki psikolog pribadi. Sejak bertemu dengannya rasanya aku jadi jarang tertekan, aku banyak berubah, bicara duluan pada orang lain jadi hal yang mudah bagiku sekarang. Setiap hari terasa menyenangkan, aku selalu menantikan hari saat kita akan bertemu. Ini aneh, dengan reza semuanya terasa menyenangkan.
Suatu hari, sekolah ku membagikan angket yang berisi pertanyaan tentang rencana muridnya di masa depan. Tahun lalu aku gak mengisinya, aku sangat bingung ingin menjadi apa. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini aku mengisinya dengan yakin. Tanpa ragu aku menulis ingin menjadi psikolog tapi tanganku terhenti ketika membaca pertanyaan “apa alasan anda” . Aku kembali bingung sama seperti tahun lalu.
Malamnya, reza meneleponku. Dia bilang dia sedang berada di dekat rumahku, lalu kami memutuskan untuk bertemu di kafe dekat rumah ku. Aku bergegas pergi untuk bertemu reza.
Dari jauh aku melihatnya duduk sendirian. Dia tampak sedang berpikir. Wajahnya murung. Tidak biasanya dia seperti itu. Aku pun segera menghampirinya. Reza terlihat terkejut saat aku menghampirinya. “Ada apa? Ga biasanya ngelamun” tanyaku cemas. “Ga apa apa” jawabnya sambil tersenyum. Tentu saja aku tidak mempercayainya, aku pun terus mendesaknya untuk bercerita sampai akhirnya dia menceritakan masalahnya padaku. Reza bilang dia sedang kesulitan dengan skripsinya. Sudah berkali-kali skripsinya di revisi, dia mulai kehilangan ide dan tidak tau harus bagaimana, dia bilang rasanya sangat melelahkan sampai dia hampir kehilangan minat di psikologi, dia takut kalau ini berlanjut nantinya dia akan benar-benar hilang minat dan muak dengan psikologi. Mendengarnya bercerita seperti itu membuatku sedih. Reza yang selalu bersemangat ketika membicarakan psikologi jadi hilang minat dan mulai muak dengan psikologi. Sepertinya reza hanya sedang stres. Lalu aku menceritakan tentang angket di sekolah tadi pagi. Aku bilang padanya bahwa aku menulis ingin menjadi psikolog di masa depan tapi aku bingung untuk mengisi alasannya tadi pagi dan setelah bertemu reza aku menemukan alasannya. “kenapa?” tanya reza. “Karena psikologi bisa menyembuhkan dan mengubah seseorang jadi lebih baik”. Mendengar jawabanku reza hanya terdiam. Dia sedang berpikir. “sejak jihan kenal reza, jihan mulai berubah, awalnya jihan ga suka punya teman baru karena kadang orang yang baru kita kenal itu suka menuntut banyak dan kadang jihan jadi merasa terbebani dan tertekan. Tapi reza ga pernah bikin jihan tertekan dan malah reza bisa ngerubah pola pikir jihan tentang teman baru, curhat ke reza rasanya kaya konsultasi ke psikolog beneran. Jihan jadi nemuin masalah dalam diri jihan dan mulai terbuka pada orang lain, dan sekarang jihan punya banyak temen yang baik termasuk reza”. Reza tersenyum mendengar aku yang bersemangat menceritakan alasannya memilih psikologi. Kalimat-kalimat yang kuucapkan seakan mengingatkannya pada alasan dia memilih mempelajari ilmu psikologi. Ia kemudian mengacak rambut ku dan berkata “ jihan ko jadi mirip aku sih kalau ngomongin psikologi” sambil tersenyum. Lagi-lagi aku merasa senang.
Setelah itu kami pun membicarakan banyak hal sambil sesekali tertawa, kami menceritakan segala hal hingga hal-hal terkecil sekalipun. Setelah lama membicarakan ini itu, aku akhirnya pulang. Sesampainya di rumah, reza mengirimiku pesan singkat. Anehnya aku merasa senang. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku jadi mudah merasa senang terhadap sesuatu yang berkaitan dengan reza, semacam euforia? Tapi kenapa? Intan bilang aku menyukai reza. Tapi aku tidak yakin.
Beberapa minggu setelah itu aku jadi jarang bertemu dengan reza karena kami berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Reza sibuk dengan skripsinya dan aku sibuk dengan persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tapi aku mulai kehilangan fokus karena perkataan intan waktu itu. Aku jadi terus-terusan memikirkan apakah aku benar menyukai reza atau tidak. Kalau aku menyukainya pasti aku akan merasa kesal saat melihat reza dekat dengan orang lain tapi aku tidak merasakan apa apa saat melihat reza dekat dengan orang lain. Tapi kalau aku tidak menyukainya kenapa aku merasa senang hanya dengan hal-hal kecil yang dia lakukan untukku. Ini aneh, aku ngga bisa memahaminya. Semakin dipikirkan kepalaku semakin sakit. Akhirnya aku menghubungi reza untuk bertanya tentang sindrom euforia yang sering aku rasakan belakangan ini. Aku bercerita pada reza bahwa aku sering merasa senang karena seorang laki-laki, tentu saja aku tidak menyebutkan kalau laki-laki itu adalah dia. Mendengar ceritaku reza kemudian menatap ku seraya berkata “Jihan, jangan mikirin cowok lain”. Aku terkejut mendengar pernyataannya. Cepat-cepat reza meralat kalimatnya “maksudnya Jihan jangan mikirin cowok dulu, Jihan harus fokus sama persiapan masuk PTN dulu. Kan Jihan bilang mau masuk jurusan psikologi biar jadi psikolog, jadi Jihan harus belajar bener-bener, oke? Kalau masalah cowok kan bisa dipikirin nanti. Masalah jodoh ga perlu terlalu dipikirin, kan udah ada yang ngatur”. Jelas reza panjang lebar. Benar juga kata reza, saat ini aku harus fokus sama persiapan masuk PTN. Masalah suka atau engganya sama reza ga perlu dipikirin karena masalah PTN lebih penting dari ini.
Setelah hari itu aku ga terlalu memikirkan soal perasaanku ke reza, karena aku benar-benar ingin masuk jurusan psikologi. Pertama kalinya, aku, seorang jihan yang mudah menyerah dan putus asa punya keinginan kuat akan sesuatu seperti ini. Baru kali ini aku merasa sangat termotivasi untuk melakukan sesuatu. Aku belajar dengan keras setiap harinya demi mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sampai akhirnya aku berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri yang aku inginkan yaitu Perguruan Tinggi Negeri tempat reza kuliah. Aku berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri ini berkat dukungan keluarga dan sahabat-sahabat ku. Terutama reza.

Komentar
Posting Komentar